Aku tidak ingin angin dan hujan dipersatukan
Karena akan tercipta badai
Apalagi kalau ditambah kilatan cahaya petir
Lengkap sudah rasanya
Apalagi ditambah gelapnya malam
Plus mati lampu
Ah sudahlah....
Lengkap sudah ketakutanku
Apalagi kalau tinggal sendirian di rumah
Hufft....merinding sudah
Apalagi tinggal di negeri orang lain, baru, merasa asing dan 'no connection'
Mati sudahlah...
19 November 2018
Followers
Thursday, December 20, 2018
Kangen 'Nggak ?
Hei kamu yang disana
Kangen 'nggak sama aku ?
Yang dulu sering kamu aja video call-an
Malam hingga pagi
Segar hingga kantuk
Bangun hingga tidur.
Kangen 'nggak dengan pembicaraan kita ?
Masalah serius hingga masalah receh
Ghibah hingga memuji orang lain
Masa lalu hingga masa depan
Ribut hingga diam-diaman.
Kalo sama 'kepala' aku kangen 'nggak ?
Mulai dari mulus hingga berjerawat
Rambut pendek hingga panjang
Rambut belah samping, belah tengah
hingga rambut "Deddy Corbuzier'.
Kamu 'nggak kangen gitu curhat sama aku ?
Curhatin masalahmu dengan kakak kamu
Curhatin masalah 'doi' yang aku sama sekali 'no idea' tentang siapa itu
Curhatin mengenai ......
Ah sudahlah...
Terlalu banyak yang kamu curhatin
Biar hanya kita dan Tuhan aja yang tahu.
Kalo kamu nanya, apa aku kangen atau 'nggak ?
Kamu udah tahu rasanya
Karna rasaku adalah rasamu
Tapi cintaku bukan cintamu
Dan cintamu bukan 'cintanya'.
Kalo kamu tanya apa yang aku kangenin tentang kamu,
Aku bakalan jawab, BANYAK.
Mulai dari rambut panjang hingga pendekmu
Mulai dari 'ngambek hingga ketawamu
Mulai dari manja hingga betapa berani dan tegarnya kamu
Mulai dari ngerepotin hingga ngebantu kamu
Mulai dari ketidakjelasan hingga debat kita
Mulai dari cantik hingga cantiknya kamu
Mulai dari awalnya hingga akhirnya.
Aku rindu semuanya
Aku kangen semuanya
Aku ingin kamu
19 November 2018
(Sambil nunggu Pak Agus selesai ;ngebersihin kamar mandi)
Kangen 'nggak sama aku ?
Yang dulu sering kamu aja video call-an
Malam hingga pagi
Segar hingga kantuk
Bangun hingga tidur.
Kangen 'nggak dengan pembicaraan kita ?
Masalah serius hingga masalah receh
Ghibah hingga memuji orang lain
Masa lalu hingga masa depan
Ribut hingga diam-diaman.
Kalo sama 'kepala' aku kangen 'nggak ?
Mulai dari mulus hingga berjerawat
Rambut pendek hingga panjang
Rambut belah samping, belah tengah
hingga rambut "Deddy Corbuzier'.
Kamu 'nggak kangen gitu curhat sama aku ?
Curhatin masalahmu dengan kakak kamu
Curhatin masalah 'doi' yang aku sama sekali 'no idea' tentang siapa itu
Curhatin mengenai ......
Ah sudahlah...
Terlalu banyak yang kamu curhatin
Biar hanya kita dan Tuhan aja yang tahu.
Kalo kamu nanya, apa aku kangen atau 'nggak ?
Kamu udah tahu rasanya
Karna rasaku adalah rasamu
Tapi cintaku bukan cintamu
Dan cintamu bukan 'cintanya'.
Kalo kamu tanya apa yang aku kangenin tentang kamu,
Aku bakalan jawab, BANYAK.
Mulai dari rambut panjang hingga pendekmu
Mulai dari 'ngambek hingga ketawamu
Mulai dari manja hingga betapa berani dan tegarnya kamu
Mulai dari ngerepotin hingga ngebantu kamu
Mulai dari ketidakjelasan hingga debat kita
Mulai dari cantik hingga cantiknya kamu
Mulai dari awalnya hingga akhirnya.
Aku kangen semuanya
Aku ingin kamu
19 November 2018
(Sambil nunggu Pak Agus selesai ;ngebersihin kamar mandi)
Saturday, April 21, 2018
Mensyukuri Kegagalan
Mungkin akan banyak yang bertanya, "Apa hal yang perlu disyukuri dari sebuah kegagalan ?"
Sebahagian orang mungkin akan menjawab, "Pembelajaran akan KEGAGALAN tersebut".
Sebahagian orang mungkin akan menjawab, "Pembelajaran akan KEGAGALAN tersebut".
Sebahagian lainnya mungkin akan menyahuti "Ah, pembenaran, aja", "Ia sih lu bersyukur gara-gara lu udah merasakan "pelangi sehabis hujan" ", atau mungkin yang lain lebih ekstrim "BACOT DAH".
Well, setiap orang dapat memiliki opininya masing-masing. Disini aku akan memberikan sedikit "insight" (versi aku pribadi) dalam mensyukuri kegagalan itu.
Let's start.
Aku Diasdo A. D. Siadari as you may know. Aku anak ITB, angkatan 2013 dan belum lulus (iya mahasiswa tua yang belum lulus dan sok-sokan ngasih ceramah). Aku jurusan Geologi, GEA'13, dengan topik Tugas Akhir mengenai "Overpressure" (intinya berhubungan dengan pengeboran terutama minyak dan gas alam dan tekanan/pressure dalam pengeboran). Aku mantan (bakal) calon mahasiswa Fasttrack ITB.
Selain itu, aku dulu pernah disuruh oleh orang tua aku, terutama Bapak, dimana Beliau sangat berharap aku dapat lulus dengan cepat. Aku (dan orangtua) dulu berharap dapat lulus Juli 2017, namun gagal. Berharap agar lulus Oktober dan gagal. Berharap Desember dan gagal. Dan dengan sendirinya Fastrack aku gagal juga. Jadi, paling tidak aku sudah mengalami 4 kegagalan selama tingkat 4 ini.
Selain itu, aku dulu pernah disuruh oleh orang tua aku, terutama Bapak, dimana Beliau sangat berharap aku dapat lulus dengan cepat. Aku (dan orangtua) dulu berharap dapat lulus Juli 2017, namun gagal. Berharap agar lulus Oktober dan gagal. Berharap Desember dan gagal. Dan dengan sendirinya Fastrack aku gagal juga. Jadi, paling tidak aku sudah mengalami 4 kegagalan selama tingkat 4 ini.
Kalo ditanya perihal mengapa saya belum lulus, mungkin akan ada banyak alasan saya untuk membenarkan diri saya. Jika dirunut dari awalnya mengapa saya bisa gagal, alasannya, ya karena saya baru memulai TA (mengambil data di perusahaan) di Bulan April hingga Juli pertengahan 2017.
Lah, kok bisa Brur? Ya karna banyak perusahaan yang menolak saya, misal Pertamina EP 1 di Sumatera Tengah, EP 3 di Jawa Barat, Total E&P (mungkin sekarang udah habis kontrak dan diakuisisi sama Pertamina), Pertamina di Jakarta, dll. Ada yang ngasih tempat, tapi mulai ngambil datanya Agustus (2017). Kan gak mungkin saya mulai NeA Agustus, sedangkan teman-teman saya Juli sudah mulai pada lulus. Oleh karena itu, saya berpasrah dan baru dapat tempat TA di pertengahan bulan Maret, di Santos (mungkin perusahaan ini juga sebentar lagi tutup juga Brur, karena habis masa kontrak dan tidak memperpanjang kontraknya lagi dan dengar-dengan sedang di-bid oleh dua perusahaan), yang dimana saya baru mengajukan pada bulan Maret awal. Puji Tuhan, keterima disana. Singkat cerita dapat memulai Tugas Akhir disana pada awal April, walau sempat ada negosiasi dan beberapa kendala yang tidak berarti.
Mungkin akan ditanya lagi, kok baru mengajukan Maret 2017, kenapa gak sejak semester ganjil 2016 Brur ? Jawaban simpelnya, ya karena mereka baru mengajukan membuka anak buat magang/OJT ya pada bulan Maret awal, via teman saya, Achmad Arviandito Caessara a.k.a. Cae a.k.a Dito a.k.a. si Ganteng maut 2.0, GEA'13 yang udah kerja di PAMA (edit: dia udah kerja di PWC (PricewaterCoopers), perusahaan bisnis konsultan gitu sekarang).
Tapi jawaban sebenarnya adalah karena saya MALAS, terutama dalam membuat CV, sehingga TA saya terbengkalai hingga begini. Harusnya sih bisa seperti teman-teman saya yang lainnya, yang udah mengajukan TA sejak semester ganjil. Tapi bisa aja dong aku pembenaran, SEANDAINYA orang tua aku adalah orang dalam perusahaan, maka aku gak harus kayak gini kondisinya. Karna ada juga kawan aku, yang belum ngasih proposal dan cv, dll samsek udah neA di perusahaan X (perusahaan milik pemerintah awalnya P akhirannya A, tengah-tengahnya huruf A dengan lambang perusahaannya berupa tiga buah kartu berwarna biru, merah dan hijau). Ya dia diterima karena kebetulan Bapaknya orang dalam, wakakaka.
Terlepas dari semua itulah, intinya aku yang salah dan aku akan selalu memiliki pembenaran yang jika aku mau. Apa yang pengen aku sampaikan dari semua panjang lebar mengenai semua kegagalan aku itu adalah bahwa benar kegagalan itu pahit, namun pasti ada keindahan setelahnya. PERCAYA DEH. (Jangan percaya sama saya. Kalo percaya sama saya, nanti bisa-bisa agama loh).
Berikut beberapa hal yang aku syukuri dalam banayk kegagalan aku di atas :
1. AKU DAN ORANGTUA PASTI SOMBONG. Itu sudah sangat pasti. Karena prinsip orang Batak adalah "ANAKKON HI DO HAMORAON DI AU" (bahasa Batak, artinya: harta/kekayaanku adalah anakku). Semakin berhasil anaknya, maka perasaan orangtua itu adalah bahwa semakin berhasillah dia sebagai orang tua dan semakin "kaya"lah dia (walau dia miskin). Bukan hanya orangtua bangga, si anak (yaitu aku) pastilah bangga juga. Apalagi kalau dari daerah mereka atau dari keluarga mereka atau dari antara teman-teman mereka atau dari punguan (bahasa Batak, artinya: perkumpulan atau kelompok) mereka, itu adalah pioneer/yang pertama. Bangga biasanya disertai dengan kesombongan (baik itu disadari ataupun tidak disadari). Aku masuk ITB aja pun rasanya sudah bangga sekali, diceritakan ke seantaro jagat seluruh semesta raya (hiperbola). Begitu juga ketika aku mengambil fasttrack. Seluruh setiap orang di semesta jagat raya ini (lagi-lagi hiperbola), pasti bakal diberitahu oleh Bapak. Berapa sks S2 yang udah diambil, berapa nilainya dan semuanya. Bangga dan malu pasti ada. Bangga bisa diketahui dan jadi percontohan buat orang lain di sekitar aku dan malu apabila tidak berhasil dalam pelaksanaannya. pula ketika akan lulus, semua orang sudah diberitahu bahwa aku tahun (2017) ini akan lulus. Keluarga dekat di Jakarta, bou (tante kandung), oppung (nenek) dan seluruh orang sudah diancang-ancang oleh Bapak. Bagaimana bila semua itu terjadi, aku lulus 2017 dan semua berjalan lancar seperti biasanya (FYI, aku gak pernah bermasalah selama kuliah, baik itu nilai, dengan dosen, dan apapun juga). Pasti kesombongan Bapak aku bertambah lagi. Udah lulus tepat waktu, fasttrack berjalan lancar, ipk gak jelek2 amat (walau gak cumlaude). Pasti sombongnya Bapak (dan keluarga aku, khususnya aku) akan menjadi-jadi. Oleh karena itu, TUHAN ingin menjaga kami dari dosa kesombongan itu, dan DIA memberikan yang terbaik bagi kami, yaitu tidak lulus di tahun 2017.
2. Aku senang bisa lulus di tahun 2018. Dengan aku lulus di tahun ini, aku lebih menghargai proses dan lebih mengenal Pak Agus M. Randhan,dosen pembimbingku. Aku jadi belajar harga sebuah perjuangan. Betapa lebih nikmatnya proses yang dilakukan dengan sepenuh hati. Aku belajar bagaimana menyelesaikan sedikit demi sedikit masalah yang ada, "menguliti" masalah tersebut hingga benar-benar "telanjang" dan menyelesaikannya. Aku lebih mengenal Bapak dosen pembimbing aku. Aku mengenal beberapa orang hebat di ruangan Beliau juga. Karena aku mengenal Beliau, Beliau juga mulai "melihat" aku dan ini berdampak kepada selanjut-selanjutnya.
3. Aku "senang" lulus di tahun 2018, karena dengan begitu aku bisa membantu adek-adek kelas aku di GEA, dalam proses mereka mengerjakan TUGAS AKHIR meraka. Prayudha, Golda, dan Gandang yang sejauh ini aku udah coba bantu (bimbing). Ketika (kala itu) aku sedang mengerjakan tugas akhir di ruangan lab Beliau dan salah satu dari mereka datang untuk bimbingan, maka Belaiu menyuruh aku untuk membantu mereka. Dari hal teknis yang sangat-sangat basic hingga hal-hal yang sebenarnya enggak aku tahu sebelumnya, tapi tahu di tempat ketika ditanya. Bahkan ada satu orang, yakni Pray, yang memanggil aku dengan sebutan "DOSBING". Cringe iya, emang. Hal itu disematkan ke aku bukan semata-mata tanpa alasan. Hal itu dilakukan karena memang literally membimbing dia step-by-step, sedikit demi sedikit, mulai dari data lasnya yang kondisinya projectional well, hingga step-by-step dalam pemilahan data, dalam pembuatan grafik tekanan terhadap kedalaman, dalam penentuan mekanisme apa yang membentuk overpressure daerah ini, dalam pembuatan litologi, diskusi pembuatan burial history, bahkan dalam pembuatan presentasi, dan semuanya. Dalam hal paper, aku juga membantu mereka mencari paper yang mereka butuhkan dan membagikan seluruh paper yang ada padaku, yang kemungkinan berguna bagi mereka. Mereka aku bantu baik dalam hal teknis maupun non-teknis hingga yang sifatnya saran dalam kolokium dan sidang nanti. Aku senang dan bangga bisa menyalurkan ilmu aku kepada mereka. Bahwa aku bisa dekat dengan 2014, yang dimana mungkin kelak mereka menjadi orang besar.
4. Seperti yang sudah aku bilang tadi, aku mengenal Pak Agus dan Pak Agus juga sudah mulai mengenal aku dengan baik. Oleh karena aku sabar selama ini dengan Pak Agus, selalu rajin dalam mengerjakan tugas akhir di ruangan Beliau, dan memang aku sangat menghormati Beliau, mungkin Beliau menjadi sedikit "memandang" aku. Oleh karena itu, dihari aku sidang (Kamis, 19 Maret 2018 kalau saya tidak salah ingat), sore harinya aku langsung ditawari Beliau untuk kerja membantu Beliau di INOV (LAPI ITB). Hal ini mungkin juga karena performa aku bagus dengan hasil yang memang juga cukup baik (dengan nilai A) dalam pengerjaan Tugas Akhir tersebut dengan lapangan tugas akhir yang kebetulan bersamaan dengan kebanyakan proyek Pak Agus dan INOV yang memang juga sama, yakni East Java Basin (Cekungan Jawa Timur). Aku langsung direkrut menjadi anggota dan membantu Beliau dan tim pada hari itu juga, sore harinya. Aku merasa sangat bersyukur, dikala aku telat lulus (6 bulan lamanya), namun disaat aku dinyatakan lulus (unofficially S.T.), aku langsung menemukan "pekerjaan" aku sementara. Pekerjaan yang bisa membantu aku hidup sementara, selama masa transisi mahasiswa-professional worker. Dikala ada (banyak) kawan-kawan aku yang lulus Juli, Oktober, Desember, dan lebih cepat dari aku, hingga sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Aku mensyukuri kondisi ini. Aku lulus dikala proyek Beliau sedang banyak. Walau mungkin disini gajinya (sangat) kecil, tapi aku sangat-sangat mensyukurinya, karena jujur, memang aku tidak terlalu mencari gaji yang besar dalam pengerjaan proyek-proyek seperti ini, melainkan "jaringan/network" dengan mereka, Beliau-beliau yang sudah terpandang dan namanya melambung tinggi di dunia per-Geologi-an Indonesia. Siapa yang tidak kenal Mr. Agus M. Ramdhan, S.T., M.T., Ph.D. (satu-satunya ahli Pore Pressure di Indonesia) dan Mr. Prof. Ir. Lambok Hutasoit, M.Sc., Ph.D. (salah satu dosen senior di dunia Geologi yang sangat dihormati, mantan ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia dan menjadi salah satu orang penting dalam Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia). Aku hanya berharap bisa mendapatkan rekomendasi dari mereka atau paling tidak mereka bisa aku cantumkan namanya sebagai "references" bila kelak aku ingin melamar suatu perkerjaan (baik geologi maupun non-geologi).
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku bagikan, mengenai hal indah apa saja yang aku alami ketika aku mengalami kegagalan. Tuhan itu baik. Pasti ada makna indah yang tersimpan di balik semua kegagalan yang sedang kita alami. Ingat bersyukur akan hal apapun juga.
KARENA TUHAN LEBIH SAYANG DENGAN MASA DEPAN KITA DARIPADA KITA SENDIRI. (BECAUSE GOD LOVES OUR FUTURE MORE THAN US). - SIADARI, 2018.
P.S. :
1. Aku menulis ini selama 2 tahun (2017-2018). Aku mulai di 2017, ketika masih sedang mahasiswa dan sedang mengerjakan skripsi, dan diakhiri pada bulan April 2018, ketika sudah lulus untuk minggu dan sudah hampir 1 bulan bekerja dalam proyek INOV. Jadi, ya penggunaan keterangan waktu dan kata ganti waktunya (what the heck is "KATA GANTI WAKTU" ?) juga berbeda-beda. Harap maklum.
2. Tidak ada maksud atau tujuan sombong dalam pembuatan tulisan ini (hanya sedikit angkuh, wakakaka, enggak denggg, canda oikk). Murni hanya ingin sharing dengan teman-teman yang mungkin juga mengalamai kegagalan (yang besar) dalam hidup ini dan merasa putus asa. Saya juga sudah pernah merasakannya tidak hanya sekali atau dua kali. Tetapi saya selalu merasakan "BUAH MANIS" dari kegagalan tersebut. Kuncinya hanya 1, sabar dengan waktunya TUHAN.
3. Ingat untuk selalu beryukur dalam segala hal, LITERALLY SEGALA HAL YANG ADA DALAM HIDUP INI.
Berikut beberapa hal yang aku syukuri dalam banayk kegagalan aku di atas :
1. AKU DAN ORANGTUA PASTI SOMBONG. Itu sudah sangat pasti. Karena prinsip orang Batak adalah "ANAKKON HI DO HAMORAON DI AU" (bahasa Batak, artinya: harta/kekayaanku adalah anakku). Semakin berhasil anaknya, maka perasaan orangtua itu adalah bahwa semakin berhasillah dia sebagai orang tua dan semakin "kaya"lah dia (walau dia miskin). Bukan hanya orangtua bangga, si anak (yaitu aku) pastilah bangga juga. Apalagi kalau dari daerah mereka atau dari keluarga mereka atau dari antara teman-teman mereka atau dari punguan (bahasa Batak, artinya: perkumpulan atau kelompok) mereka, itu adalah pioneer/yang pertama. Bangga biasanya disertai dengan kesombongan (baik itu disadari ataupun tidak disadari). Aku masuk ITB aja pun rasanya sudah bangga sekali, diceritakan ke seantaro jagat seluruh semesta raya (hiperbola). Begitu juga ketika aku mengambil fasttrack. Seluruh setiap orang di semesta jagat raya ini (lagi-lagi hiperbola), pasti bakal diberitahu oleh Bapak. Berapa sks S2 yang udah diambil, berapa nilainya dan semuanya. Bangga dan malu pasti ada. Bangga bisa diketahui dan jadi percontohan buat orang lain di sekitar aku dan malu apabila tidak berhasil dalam pelaksanaannya. pula ketika akan lulus, semua orang sudah diberitahu bahwa aku tahun (2017) ini akan lulus. Keluarga dekat di Jakarta, bou (tante kandung), oppung (nenek) dan seluruh orang sudah diancang-ancang oleh Bapak. Bagaimana bila semua itu terjadi, aku lulus 2017 dan semua berjalan lancar seperti biasanya (FYI, aku gak pernah bermasalah selama kuliah, baik itu nilai, dengan dosen, dan apapun juga). Pasti kesombongan Bapak aku bertambah lagi. Udah lulus tepat waktu, fasttrack berjalan lancar, ipk gak jelek2 amat (walau gak cumlaude). Pasti sombongnya Bapak (dan keluarga aku, khususnya aku) akan menjadi-jadi. Oleh karena itu, TUHAN ingin menjaga kami dari dosa kesombongan itu, dan DIA memberikan yang terbaik bagi kami, yaitu tidak lulus di tahun 2017.
2. Aku senang bisa lulus di tahun 2018. Dengan aku lulus di tahun ini, aku lebih menghargai proses dan lebih mengenal Pak Agus M. Randhan,dosen pembimbingku. Aku jadi belajar harga sebuah perjuangan. Betapa lebih nikmatnya proses yang dilakukan dengan sepenuh hati. Aku belajar bagaimana menyelesaikan sedikit demi sedikit masalah yang ada, "menguliti" masalah tersebut hingga benar-benar "telanjang" dan menyelesaikannya. Aku lebih mengenal Bapak dosen pembimbing aku. Aku mengenal beberapa orang hebat di ruangan Beliau juga. Karena aku mengenal Beliau, Beliau juga mulai "melihat" aku dan ini berdampak kepada selanjut-selanjutnya.
3. Aku "senang" lulus di tahun 2018, karena dengan begitu aku bisa membantu adek-adek kelas aku di GEA, dalam proses mereka mengerjakan TUGAS AKHIR meraka. Prayudha, Golda, dan Gandang yang sejauh ini aku udah coba bantu (bimbing). Ketika (kala itu) aku sedang mengerjakan tugas akhir di ruangan lab Beliau dan salah satu dari mereka datang untuk bimbingan, maka Belaiu menyuruh aku untuk membantu mereka. Dari hal teknis yang sangat-sangat basic hingga hal-hal yang sebenarnya enggak aku tahu sebelumnya, tapi tahu di tempat ketika ditanya. Bahkan ada satu orang, yakni Pray, yang memanggil aku dengan sebutan "DOSBING". Cringe iya, emang. Hal itu disematkan ke aku bukan semata-mata tanpa alasan. Hal itu dilakukan karena memang literally membimbing dia step-by-step, sedikit demi sedikit, mulai dari data lasnya yang kondisinya projectional well, hingga step-by-step dalam pemilahan data, dalam pembuatan grafik tekanan terhadap kedalaman, dalam penentuan mekanisme apa yang membentuk overpressure daerah ini, dalam pembuatan litologi, diskusi pembuatan burial history, bahkan dalam pembuatan presentasi, dan semuanya. Dalam hal paper, aku juga membantu mereka mencari paper yang mereka butuhkan dan membagikan seluruh paper yang ada padaku, yang kemungkinan berguna bagi mereka. Mereka aku bantu baik dalam hal teknis maupun non-teknis hingga yang sifatnya saran dalam kolokium dan sidang nanti. Aku senang dan bangga bisa menyalurkan ilmu aku kepada mereka. Bahwa aku bisa dekat dengan 2014, yang dimana mungkin kelak mereka menjadi orang besar.
4. Seperti yang sudah aku bilang tadi, aku mengenal Pak Agus dan Pak Agus juga sudah mulai mengenal aku dengan baik. Oleh karena aku sabar selama ini dengan Pak Agus, selalu rajin dalam mengerjakan tugas akhir di ruangan Beliau, dan memang aku sangat menghormati Beliau, mungkin Beliau menjadi sedikit "memandang" aku. Oleh karena itu, dihari aku sidang (Kamis, 19 Maret 2018 kalau saya tidak salah ingat), sore harinya aku langsung ditawari Beliau untuk kerja membantu Beliau di INOV (LAPI ITB). Hal ini mungkin juga karena performa aku bagus dengan hasil yang memang juga cukup baik (dengan nilai A) dalam pengerjaan Tugas Akhir tersebut dengan lapangan tugas akhir yang kebetulan bersamaan dengan kebanyakan proyek Pak Agus dan INOV yang memang juga sama, yakni East Java Basin (Cekungan Jawa Timur). Aku langsung direkrut menjadi anggota dan membantu Beliau dan tim pada hari itu juga, sore harinya. Aku merasa sangat bersyukur, dikala aku telat lulus (6 bulan lamanya), namun disaat aku dinyatakan lulus (unofficially S.T.), aku langsung menemukan "pekerjaan" aku sementara. Pekerjaan yang bisa membantu aku hidup sementara, selama masa transisi mahasiswa-professional worker. Dikala ada (banyak) kawan-kawan aku yang lulus Juli, Oktober, Desember, dan lebih cepat dari aku, hingga sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Aku mensyukuri kondisi ini. Aku lulus dikala proyek Beliau sedang banyak. Walau mungkin disini gajinya (sangat) kecil, tapi aku sangat-sangat mensyukurinya, karena jujur, memang aku tidak terlalu mencari gaji yang besar dalam pengerjaan proyek-proyek seperti ini, melainkan "jaringan/network" dengan mereka, Beliau-beliau yang sudah terpandang dan namanya melambung tinggi di dunia per-Geologi-an Indonesia. Siapa yang tidak kenal Mr. Agus M. Ramdhan, S.T., M.T., Ph.D. (satu-satunya ahli Pore Pressure di Indonesia) dan Mr. Prof. Ir. Lambok Hutasoit, M.Sc., Ph.D. (salah satu dosen senior di dunia Geologi yang sangat dihormati, mantan ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia dan menjadi salah satu orang penting dalam Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia). Aku hanya berharap bisa mendapatkan rekomendasi dari mereka atau paling tidak mereka bisa aku cantumkan namanya sebagai "references" bila kelak aku ingin melamar suatu perkerjaan (baik geologi maupun non-geologi).
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku bagikan, mengenai hal indah apa saja yang aku alami ketika aku mengalami kegagalan. Tuhan itu baik. Pasti ada makna indah yang tersimpan di balik semua kegagalan yang sedang kita alami. Ingat bersyukur akan hal apapun juga.
KARENA TUHAN LEBIH SAYANG DENGAN MASA DEPAN KITA DARIPADA KITA SENDIRI. (BECAUSE GOD LOVES OUR FUTURE MORE THAN US). - SIADARI, 2018.
P.S. :
1. Aku menulis ini selama 2 tahun (2017-2018). Aku mulai di 2017, ketika masih sedang mahasiswa dan sedang mengerjakan skripsi, dan diakhiri pada bulan April 2018, ketika sudah lulus untuk minggu dan sudah hampir 1 bulan bekerja dalam proyek INOV. Jadi, ya penggunaan keterangan waktu dan kata ganti waktunya (what the heck is "KATA GANTI WAKTU" ?) juga berbeda-beda. Harap maklum.
2. Tidak ada maksud atau tujuan sombong dalam pembuatan tulisan ini (hanya sedikit angkuh, wakakaka, enggak denggg, canda oikk). Murni hanya ingin sharing dengan teman-teman yang mungkin juga mengalamai kegagalan (yang besar) dalam hidup ini dan merasa putus asa. Saya juga sudah pernah merasakannya tidak hanya sekali atau dua kali. Tetapi saya selalu merasakan "BUAH MANIS" dari kegagalan tersebut. Kuncinya hanya 1, sabar dengan waktunya TUHAN.
3. Ingat untuk selalu beryukur dalam segala hal, LITERALLY SEGALA HAL YANG ADA DALAM HIDUP INI.
Subscribe to:
Posts (Atom)