Langit menangis...
Yang tragis diterpa angin
Tanpa secercah sisa
Bumi bergoncang...
Menggetarkan tubuh kami
Yang ditimpa batuan beban kehidupan
Yang coba kami pikul
Laut berkecamuk...
Memecah setiap batu yang dihempaskan
Membawa puing sisa
Entah kemana akan terbawa
Aku menangis kecewa
Atas semua perjuanganku
Aku mencari tempat sembunyi
Menerikkan kekesalanku
dan meneteskan beningnya air mata ini
Aku tertegun melihat sekitarku
Cercahan kertas yang tersobek
Terbawa aliran sungai yang tenang
Tersangkut di bebatuan sepanjang aliran
Aku terdiam
Bisu 'tak berbahasa
Seakan pasrah adalah jalan
Tanpa bisa menghindarkan nasib
Heningmencekam diantara pegunungan
Hanya deru angin yang terdengar
Hitamnya penglihatanku diantara hijaunya alam
Tanpa mampu 'tuk mengubah semuanya
Kesombongan tiada arti
Keangkhan yang ditunjukkan
Tercampak oleh badai
Membuat alam diam berbisu
Seakan Tuhan sudah menakdirkan
Puisi ini tercipta ketika saya dan teman beserta guru pembimbing ikut bertarung dalam acara LCC 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara , dan ternyata kami kalah dalam pertandingan tersebut....
Jujur, secara pribadi saya kecewa melihat hasil dari perjuangan kami selama ini...Kami sudah merelakan sebahagian dari waktu belajar kami untuk ajang bergengsi ini...
Kami sampai mau tertidur sambil menghapal semua semua substansi dari keempat pilar tersebut karena 'sangkin' capeknya...
Tapi memang namanya takdir...Memang Tuhan sudah menetapkan hal tersebut...
Mungkin belum saatnya kami untuk menang saat ini...
Mungkin ada kelompok yang lebih keras perjuangannya daripada kami dan merekalah yang lebih berhak buat kemenangan itu...
Tapi perjuangan belum berakhir saat itu juga...
Karena kami akan tetap melanjutkan hidup kami , walau disini kami kalah...
Tapi suatu saat kami akan menunjukkan bahwa kami bisa....
Inilah kami bersepuluh peserta dari Kabupaten Simalungun beserta Bapak August ( Panitia ).
Inilah kedua guru pembimbing kami yang selalu membimbing kami ....
0 comments:
Post a Comment