Beberapa kejadian luar biasa yang menimpa diri saya kemarin membuat saya seperti tidak tahu harus berkata-kata apa lagi. Mulai dari pagi dini hari hingga malam hari. Beberapa kejadian tersebut seakan menusuk diri saya hingga ke relung hati yang paling dalam hingga saya hanya terdiam membisu dan sejenak diam berpikir untuk melakukan hal yang sepantasnya saya lakukan.
Mulai dari dini hari. Kebetulan beberapa hari ini, semenjak saya berada dan tinggal di Bandung ini, sementara saya tinggal dengan kakak/abang alumni kami dari asrama juga. Bang Alexander namanya. Biasa dipanggil Bang Exan atau Bang Alex. Kami tinggal buat sementara di rumah Bang Exan. Dan Sore hari sebelum kejadian hari itu , kami ketemu dengan dua orang kakak alumni dan bertemu sewaktu sedang mencari rumah kostan sementara buat Naomi (Nata).
Bah, karena mereka juga satu sudah tamat, dah satu orang tinggal menunggu jadwal wisudanya. Jadi mereka tinggal santai dan untuk menginap di kostan kami berada buat bermalam. Tak terhindarkan, bermain kartu pun jadi alasan kami buat menghabiskan waktu, ditemani kopi dan kacang serta makanan ringan lainnya. Dan betul saja, pukul 3 dini hari kami baru memutuskan untuk menyudahi permainan ini dengan aku sebagai "The Last Winner".
Paginya saya terbangun sekitar pukul 8 atau 9 pagi. Dan beres-beres diselangi OL seperti biasanya, dan sekitar pukul 11, Bang Exan pulang dari kuliahnya di SBM ITB. Dan sekitar sejam dari waktu itu, Ibu kostnya datang. Dan saya tepat berada di sebelah serongnya ketika ia berkata secara halus mengusir saya da teman dari tempat kostan kami menginap sementara.
Pada saat itu saya batru merasakan, bagaimana rasanya kita di usir dari tempat tinggal kita yang dimana kita sudah merasakan cukup nyaman untuk tinggal di tempat itu. Seperti di sinetron-sinetron saja pikir saya. Dan betul sih, sungguh menyayat hati saya. Jadi sempat saya berpikir, berarti beginilah nasib para warga yang nasib rumahnya tidak jelas akibat gusuran sesuka hati pemerintah kita. Dengan sesuka hati dihancurkan dan tanpa berpikir untuk menyediakan tempat yang lebih layak utuk tempat berteduh sementara bagi mereka yang nasib rumahnya digusur. Haduuhhh...
Kemudian kami pergi tempat itu dengan membawa seluruh harta milik kami buat mengungsi ketempat yang sebelumnya sudah di booking yakni Asrama Kinang Pinanjung ITB. Tapi, alhasil hasilnya nihil. Ternyata bapak asramanya tidak memperbolehkan kami yang non BM (Bidik Misi) untuk tinggal sementara di asrama ini.
Aslilah..kami seperti gelandangan yang tidak punya sekedar tempat buat berlindung dari sengatan matahari. Tapi untunglah ada Kak Poppy (biasanya dipanggil Kak Vius) yang bersedia untuk sementara menampung kami tinggal di kamar kostannya yang kecil. Dan dari tempat itu kami beranjak buat meng-DP (Uang Muka) rumah kontrakan kami yang memang sudah di pesan sebelumnya.
Dan setelah lama bertele-tele mengomongkan beberapa peraturan dan aturan main di rumah kontrakan itu, hasilnya terjadilah nota kesepakatan bersama antara kami dengan sang pemilik rumah kontrakan dengan uang muka 4 juta rupiah.
Setelah itu, kami terpisah dengan Kak Mejer dan Kak Vius. Selanjutnya, kami (Saya, Naomi, Daniel, Kurniawan, dan Nonita beserta Bang Tougous dan Bang Exan) pergi berjalan-jalan sekaligus buat menghabiskan waktu .
Dan tibalah waktu buat kami buat makan malam. Kami makan malam di sebuah tempat kecil di samping jalan *saya lupa nama jalannya*. Kami bertujuh makan malam disitu dan kebetulan saya dan Daniel berada paling pinggir dekat jalan, dan kami dalam posisi samping-sampingan.
Saat sedang santai makan malam, datanglah seorang anak kecil bermuka polos ke pada kami yang ada di tempat makan tersebut. Dan kebetulan yang melihat dia hanyalah kami berdua dengan Daniel, karena yang lainnya sedang asyik menikmati makan malam mereka. Dia datang dengan secarik kertas amplop kosong dengan diluanya ada tertulis dengan pensil dan huruf yang tidak terlalu sempurna sedemikian rupa *tidak terlalu persis* :
"Assalamualaikum Wr. Wb. Bapak / Ibu.
Maaf saya ganggu waktunya. Saya hanya ingin meminta berbagi sedikit rejekinya
buat biaya saya sekolah...."
Dan betul sajalah saya dan Daniel langsung iba membaca tulisan tersebut, karena si adik kecil tadi mengatakan buat biaya sekolah. Karena saya sejujurnya tidak dapat melihat seseorang itu tertatih pendidikannya hanya karena biaya sekolah. Tanpa pikir panjang saya langsung mengambil sedikit rejeki yang saya punya buat berbagi dengan adik tersebut, lalu saya tutup amplop itu dan saya panggil dia. Sebelum saya menyerahkan amplop tersebut, saya mengatakan sedemikian : " Rajin-rajin belajar ea dek. Biar jadi orang sukses nanti". Dan dia hanya mengangguk kecil kemudian berlalulah kejadian tersebut.
Satu hal yang ingin saya ambil dari kejadian selama satu hari tersebut adalah bahwa saya sedang dipahat, dirombak dan diolah untuk menjadi manusia yang tahan tahan uji, tapi harus juga tetap memiliki rasa kasihan, iba dan persaudaraan terhadap sesama manusia walau sekalipun tidak menganut kepercayaan yang sama dengan kita. Saya berharap kita semua pun dapat mengambil makna dan hikmah dari tiap masalah kita setiap harinya, agar kita bisa semakin mensyukuri kehidupan ini, dan semakin mensyukuri setiap pemberianNya buat kita...
Salam
0 comments:
Post a Comment