Friday, March 13, 2020

Sedih yang sama berulang kembali

Posted by Diasdo Siadari at 11:41 AM
Hari ini aku kembali sedih lagi. Mungkin sudah lama tidak kurasakan kesedihan seperti ini. Setahun ? Dua tahun yang lalu ? Ah tidak tahulah, sepertinya sudah lama, bukan baru-baru ini pastinya. Sudah lebih dari dua tahun yang lalu mungkin. Aku mungkin masih ingat sedikit kesedihan yang dulu itu. Ya aku masih ingat sedikit. Itu mengenai para gelandangan dan pengemis yang hidup di trotoar jalan sekitaran Braga. Mereka hidup dari hasil mengemis atau memungut sampah/barang bekas dan mereka tidur di kursi sepanjang trotoar jalan. Seakan tidak ada yang peduli kepada mereka. Sedih sekali rasanya saat ini. Tapi aku tahan, karena saat itu sedang keluar bersama dengan teman yang baru datang dari luar Pulau Jawa.

Tapi hari ini, di kantorku yang sekarang, aku merasakan kesedihan yang hampir serupa. Kepada mereka yang kehidupan selanjutnya bergantung pada waktu, kemujurannya dan belas kasihan pemberi pekerjaan. Iya, mereka para honorer. Lebih tepatnya para penjaga keamanan khususnya lantai 7, yaitu Pak Solikhin kalau saya tidak saya lihat namanya tadi.

Mengapa saya sedih hari ini ? Tentu Anda akan bertanya-tanya kan ?
Karna hal simpel sih sebenarnya. Ya, perihal kartu kredit.
Sekitaran 2-3 minggu yang lalu, kami didata mengenai pembuatan kartu kredit oleh Bank BRI yang berkerjasama dengan kantor kami, dengan fasilitas bebas biaya tahunan seumur hidup. Tentu hampir semua kami yang baru masuk ikutan dong. Toh, tidak ada salahnya punya kartu kredit, siapa tahu suatu saat dibutuhkan pikirku (dan mungkin bebebrapa temanku).

Nah, hari ini, 13 Maret 2020, salah satu kartu kredit milik teman saya sampai, dan sesuai peraturan hanya sampai lobi saja, dan dari lobi ke ruangan kami diantarkan oleh satpam, yaitu Bapak tadi. Beliau selalu sopan kepada kami semua dan kepada saya. Saya juga selalu sopan kepada Beliau dengan selalu menyapanya, paling tidak kalau setiap mau menggunakan lift. Sehingga Beliau pasti mengenal saya, walau Beliau tidak mengetahui nama saya.

Pada saat Beliau mengantarkan kartu kredit kredit BRI teman saya tersebut, teman saya tidak ada di ruangan, sehingga saya mewakili mengambil dan menandatangani surat terima barangnya. Kemudian terjadi perbincangan sedikit dengan Beliau

Pak Solikhin (PS) : Ini ada kartu, seperti kartu ATM gitu.
Saya (S) : Owh, iya Pak, atas nama siapa Pak ?
PS : (menyebutkan nama teman saya).
S : Owh iya, sedang keluar Pak. Sini saya wakilkan saja Pak
PS : Oh yaudah.
S : (meandatangani kartu tersebut)
PS : Ini sebenarnya apa yah ? Kayak kartu ATM gitu buat narik uang di ATM ?
S : Bukan Pak. Ini kartu kredit, Pak, buat ngutanglah istilahnya Pak.
PS : Owh, saya juga dulu pernah sepertinya ingin membuat seperti ini
S: (pikir saya dalam hati, "Keknya mungkin maksud Bapak itu adalah ngutang di Bank, bukan kartu kredit, buat apa juga Beliau butuh kartu kredit")

----Bagian paling 'jleb'nya datang setelah ini---
PS : Saya kan honorer...
S : (Damn. Jadi selama ini Beliau honorer. Datang jam 7 lebih kurang, pulang selalu diatas jam 7 malam bahkan saya beberapa kali balik jam 8 malam, Beliau belum balik, dan digaji hanya sebatas honorer. Fak...Hati kecil saya menjerit.)
PS : Jadi saya dulu pernah ke Bank mengajukan itu. Kan itu rumah disurvei, pekerjaan, dan semuanya. Ya akhirnya gak jadi.
S : (Disitu saya langsung terdiam. Saya liat mata Beliau, seperti akan jatuh butiran air mata. Saya langsung seperti ingin menangis rasanya meihat Beliau menangis) Owh iya Pak. (Saya langsung terdiam).

Mungkin terdengar lebai sih. Terkesan melebih-lebihkan. Yang paling sedih bukan bagian ketika dia cerita, tapi ekspresi dan mimik wajahnya. Pengen melawan dunia ini, tapi dia tidak sanggup. Hanya sanggup bertahan dan menyerah akan keadaan.

Hahaha. Mungkin seditu dulu perjuangan dan rewardmu Pak. Semangat Pak.

0 comments:

Post a Comment

 

UKIRAN KISAHKU Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea