Followers
Monday, January 25, 2021
Just Love Your Grandparents. Make them Happy !!!
I am so sad right now. I mean, i am truly sad for what i've seen and i've been through for like a couple hours ago. I wish i still have my grandmom alive, i would truly love her and never let her down. I would really loved her with all my heart.
I mean, seriously guys. Can't you just make your grandparents happy for just like 1 year or maybe 2 years. Just do what they want and buy stuffs they want to have. You'll be very happy at the end of the day and never regret yourself.
Aku tau dan sadar bahwa aku bukanlah orang yang sudah baik kepada Oppung (re:Kakek Nenek). Oleh karena itu, karena aku sadar bahwa aku bukan orang yang baik dan berbakti kepada Oppung, maka aku menyesal akan hal tersebut. Aku sangat menyesal bahkan sampai saat ini. Aku sadar akan semua kesalahan dan keegoisan yang kulakukan pada Oppung selama masa hidupnya. Andai aku dikasih waktu untuk menyampaikan sesuatu hal kepada Diasdo di masa lalu, maka pilihanku bukan untuk menyuruhnya invest di bitcoin atau saham, tapi aku ingin kembali kepada Diasdo umur 10 tahun atau bahkan lebih muda dari itu 7 tahun mungkin dan menyuruhnya untuk menyayangi Oppung dengan sepenuh hatinya. Jangan sampe dia menyesal seperti Diasdo di usia 24 tahun ini. Selalu menyesal dan hampir setiap tahun menangisi kepergian Oppungnya dan tidak pernah bisa berbakti lagi untuk yang terakhir kalinya kepada Oppung.
Seperti saat sedang menulis blog ini, aku menangis seperti biasa dengan sangat keras tapi tidak bersuara karena takut mengganggu dan membuat tetangga kosan bingung. Aku selalu saja menangis dengan sangat menjadi-jadi setiap kali aku teringat akan Oppung. Bahkan selalu meminta kepada Tuhan untuk memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Oppung di alam mimpi. Semerasa bersalah itu aku kepada Oppung dan ingin sekali rasanya aku bisa menghapuskan rasa bersalahku kepada Oppung. Aku ingat saat kecil dulu, pada saat menonton televisi. Kami selalu mengganggu kesenangannya untuk menonton sinetron. Selalu saja membuat dia sedih. Dan aku menyesal sekali membuatnya sedih seperti itu. Ingin rasanya kembali menoton sinetron bersamanya. (Fuck, I'm crying). Sedih kali. Andai aku bisa memutar waktu dan kembali menikmati masa itu bersamanya. Andai aku bisa membuat dia lebih sehat sehingga dia bisa menghadiri wisudaku. Andai saja aku bisa melakukan semua yang dia perintahkan kala itu. Andai aku tidak sebodoh itu saat itu dan bisa berpikir lebih jernih untuk lebih menghormati dan menghargai Oppung.
Sedih sekali rasanya melihat ada orang yang menelantarkan Oppungnya atau mungkin orangtuanya. Jangan sampai kau pernah menelantarkan mereka.
BUAT SIAPAPUPUN YANG MEMBACA TULISA INI, SAYA PERINTAHKAN KAU UNTUK MENYAYANGI ORANGTUA DAN JUGA KAKEK NENEKMU !!!
Karena mungkin saja umur mereka tidak lama lagi dan kau akan menyesali perbuatanmu dan kau akan hidup dengan penyesalan yang sangaat mendalam sepanjang hidupmu. Karena kau akan selalu menangis setiap kali kau mengingat hal buruk yang kau kau lakukan kepada mereka dan hal baik yang belum kau lakukan kepada mereka. Seperti aku. Jangan sampai seperti aku...
Baik aku akan menjelaskan peristiwa sedih yang aku pikir perlu kita tahu bersama.
Hari ini sekitar pukul setengah sembilan malam saya balik dari kantor PPK 2.2 Prov. Sumut ke kosan. Sebelum balek ke kosan, saya makan malam terlebih dahulu dan mengambil pakaian di laundry. Setelah itu, saya pun langsung balek ke kosan dan di depan kosan saya melihat ada seorang nenek yang sedang duduk sembari mengesot kecil-kecil, mungkin 1 meter/menit. Pakaiannya lusuh dan aku mau menyapa tetapi takut sekali. Untungnya Bapak kosan keluar karena melihat ada hal yang aneh di CCTV dan menyamparin nenek tersebut dan bertanya dimana rumah nenek tersebut. Nenek tersebut masih sangat sadar dan waras saya pikir, dan dia menjawab di Gg. Syukur. Benar, ini Gg. Syukur. Tetapi Bapak tersebut tidak tahu itu Orangtua siapa, sehingga bertanya kepada istrinya. Ibu kosan yang mengetahui Nenek tersebut, merasa bahwa mereka hanya akan ditipu oleh nenek tersebut dan menjawa Bapak kosan dengan sangat jutek dan acuh tak acuh. Singkat cerita,kami mengetahui dimana nenek tersebut tinggal.
Kondisi nenek tersebut sangat lusuh. SANGAT LUSUH dan saya rasa itu tidak pantas, SANGAT TIDAK PANTAS untuk dikenakan lagi. Saya pikir itu mungkin saja pakaian bekas yang mungkin sudah 20 tahun atau mungkin 30 tahun yang lalu. Sangat lusuh dan sangat bau. Saya tidak pernah membayangkan saya memakai pakaian tersebut bahkan untuk 1 menit saja.
Ketika kami tau dimana nenek tersebut tinggal, Bapak berusaha mendirikan Nenek tersebut, tetapi seperti dia sudah tidak terlalu kuat lagi untuk berdiri bahkan walau sudah ditopang Bapak. Kemudian kami mendirikannya kembali dan kali ini kami memegangkan tongkatnya ke tangannya agar dia bisa menopang dirinya sendiri. Nenek tersebut sudah sangat tua. Kalau saya disuruh menaksir usianya, mungkin sekitaran 80-90 tahun. Badannya sudah bungkuk. Sangat bungkuk. Aku pikir itu sudah membentuk 90 derajat mulai dari kepala ke pinggan dan pinggang ke kakinya.
Tidak tau dia sudah berapa lama berapa di luar, di malam yang dingin ini. Mungkin saja 2 jam, mungkin lebih. Kasian sekali nenek itu.
Ketika mendirikan nenek tersebut, saya mencium bau pesing. Sangat bau. Sangat mungkin sekali pakaian tersebut sudah digunakan nenek tersebut mungkin 2 hari atau bahkan selama 1 mingguan dan belum diganti. Sangat bau dan kotor. Dan celana yang dikenakan nenek tersebut melorot dan dia tau bahwa itu melorot dan dia memegang celananya agar tidak terjatuh saat kami berusaha mendirikannya. Dari situlah saya tahu bahwa nenek tersebut masih cukup sadar dan cukup waras, sehingga dia tidak ingin celananya melorot dan selalu memegang celananya dengan tangan kirinya sembari tangan kanan memegang tongkat.
Ketika kami tahu bahwa kemungkinan besar nenek tersebut tidak akan mampu untuk berjalan ke rumahnya, maka Bapak inisiatif menyalakan sepeda motor untuk membawanya. Saya mengangkat nenek tersebut ke motor dengan susah payah, karena saya takut memegang kedua ketiak nenek tersebut, takutnya akan terjadi salah urat atau apalah yang menyebabkan dia terluka. Pada akhirnya saya mengangkat Nenek tersebut dengan memegang kedua keteknya. Akhirnya dia berhasil naik ke sepeda motor. Karena kondisi Nenek tersebut yang sudah bungkuk dan memakan seluruh bangku di sepeda motor tersebut dan saya tidak bisa lagi naik di atasnya, maka saya mengatakan kepada Bapak Kosan bahwa saya akan memegangi Nenek tersebut dari belakang sembari Bapak membawa sepeda motornya dengan perlahan. Bapak Kosan setuju dan kami berjalan pelan tetapi pasti.
Satu rumah terlewati, dua, sepuluh, dst, sampai sampai pada satu gang. Saya pikir itu ganggnya, tetapi Kata Bapak Kosan belum. Kami terus seperti itu, Bapak mengendarai sepeda motornya sedangkan saya di belakang sembari berlari kecil-kecil memegangi Nenek tersebut. Saat hampir sampai di rumah si Nenek, kami bertemu orang dan menanyakan dimana rumah si Nenek dan dia mengatakan, sama itu saja. Dan kami bertemu dengan dua orang anak muda tinggi, dan salah seorang lainnya mengatakan, ikuti dia saja.
Kami mengikuti si anak remaja tersebut, sampai pada sebuah rumah yang terbuat dari semen seluruhnya, memang sederhana tetapi sudah cukup baik saya pikir. Dan di depan mata kami, si Nenek dimarahin dan mengatakan, bahwa si Nenek sudah disuruh untuk tidak pergi kemana-mana dan si Nenek menyusahkan orang lain saja.
Botol minuman si Nenek di ambil dan di campakkan ke seberang rumahnya. Si Nenek di "paksa" berdiri dengan kasarnya oleh si anak remaja tersebut. Saya pikir anak remaja tersebut adalah cucunya dan di rumah tersebut ada seperti tumpukan tilam yang sudah tua dan sudah usang dan sudah sangat lembek, saya berpikir mungkin disitulah si Nenek tidur. Karena di samping tumpukan tilam usang busuk dan (saya pikir) sobek itu, ada juga tilam lainnya dimana ada orang yang sudah cukup tua juga tertidur di situ beserta ada seorang anak yang masih kecil, mungkin masih 10 tahunan. Orang yang cukup tua tersebut saya pikir adalah anak atau menantu si Nenek.
Yang anehnya saya pikirkan adalah posisi saat itu sudah pukul sembilan malam lewat. Logika sederhana ketika sudah malam adalah kita mencari tau dimana anggota keluarga kita yang lainnya apakah kembali ke rumah atau menginap dimana, sehingga bisa tidur dengan nyenak. Ketika kita tidak melihat anggota keluarga kita yang sudah sangat berumur dan tidak ada di rumah pada pukul 9 malam, reaksi simpel dan sederhana yang kita lakukan adalah mencarinya. YA MENCARINYA.
KETIKA SUDAH MALAM DAN KITA TIDAK MENEMUKAN KAKEK NENEK YANG SUDAH SANGAT TUA DAN MUNGKIN SAJA AGAK PIKIN TIDAK BERADA DI RUMAH, MAKA LOGIKA SEDERHANA SEBAGAI REAKSI DARI PIKIRAN KITA ADALAH MENCARINYA.
Tetapi, saya pikir, anak, cucu, menantu ataupun orang yang berada di rumah tersebut tidak peduli dengan Nenek tersebut. Aneh rasanya.
Di usianya yang sudah sangat tua, mungkin Nenek tersebut hidup tidak akan lama lagi, mungkin saja tahun ini Nenek tersebut sudah meninggal, maka apakah tidak bisa anak cucu menantunya untuk membahagiakannya, menyenangkannya ataupun memanjakannya. Menjaganya agar tidak pergi-pergi. mengajaknya ngorol mengenai masa lalu.
Kasian sekali di akhir usianya yang sudah sangat senja, Nenek tersebut hidup dengan kondisi yang memprihatikan sekali. Tidak tega rasanya melihat adanya orang tua yang hidupnya sememprihatinkan itu.
FYI, ketika si Nenek didirikan dengan paksa oleh si anak dari teras rumah menuju ke dalam rumah, si Nenek tetap memegangi celananya agar tidak melorot, walau tetap saja melorot dikit. Hal ini membuktikan bahwa si Nenek masih sangat sadar dan sangat mampu untuk berpikir dengan jernih.
Saya harap kita semua tetap menjaga akal kita dan selalu berusaha untuk selalu membahagiakan orangtua kita.
BAHAGIAKANLAH HIDUP KAKEK NENEK DAN ORANGTUAMU. KARENA MUNGKIN SAJA, MUNGKIN SAJA....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment